Teruntuk cintamu,
sampai pada awal menulis ini, aku masih belum tau kata apa yang paling tepat untuk menghangatkanmu ketika membaca ini nantinya.
aku ingin kata yang paling bisa membuatmu sehangat dalam balutan peluk yang pernah kita bagi di suatu pagi.
aku ingin kata yang paling bisa membuatmu sebahagia dalam rengkuhan canda yang pernah kita hargai di suatu pantai.
aku tak tau apa kamu mau melanjutkan membaca tulisanku atau tidak.
aku hanya ingin menulis karena ini adalah caraku untuk membuatmu mendengarku, sesaat.
cukup sejenak.
aku rasa kamu cukup paham tentang keadaan kita bukan? bisu yang terlalu membuncah dan turut serta setiap janji yang kamu tiadakan.
inginku, sederhana. kamu mendengarku, sekali saja.
aku ingin bicara. berdua. semesra waktu kita yang lampau. tanpa batas, tanpa jeda. dengan tawa, dengan luka.
aku rindu pada kejelasan tentang abu-abu yang ada diantara belantara kelabu yang membuai kita.
rindu.
rindu.
lebih rindu dari yang bisa terkira.
aku tak pernah lelah mendengar setiap janjimu walau aku tau kamu pasti akan melukainya, menghilangkannya secara sengaja.
aku (mencoba) tak pernah jenuh untuk setiap prasangka yang merasuk dalam hati. aku tau ini tak baik, membuatku terpuruk.
namun, aku tak ingin jadi pendusta diantara rasa yang aku tau akan menjadi pelangi pada akhir hujan.
setidaknya, aku (masih) menuai asa tanpa lepas dari tengadah doa. tak peduli dengan mereka.
ku harap semesta tau, kamu yang paling berharga. kamu pemenangnya.
tentulah kamu, Ayahku.
No comments:
Post a Comment